Minggu, 15 Oktober 2017

Halaqah Cinta

Malam itu, 22 Muharram 1439 aku mengikuti kajian yang bernama Halaqah Cinta. Diadakan oleh pengurus masjid Ulul Azmi Kampus C UNAIR. Dengan judul “Cintaku Bukan Cinta Biasa”, yang dijadwalkan dimulai pukul 19.00. Aku berangkat dari rumah setelah sholat Isya’ tepat, langsung menuju lokasi. Sampai di sana sudah lewat pukul 7 malam. Acara sudah dimulai dengan musik qosidah dan lagu-lagu Islami.
Beberapa puluh kemudian, muncul MC yang mengisi acara agar tidak monoton. Hingga akhirnya acara resmi pun dibacakan. Mulai dari Pembukaan, Pembacaan Qalam Ilahi, Sambutan-sambutan, Pemutaran Video hingga materi inti yang bertemakan cinta. Materi inti inilah yang kita tunggu-tunggu, yang akan disampaikan oleh Habib Muhammad bin Anies Sahab dari Malang.
Sebelum memasuki acara inti, beberapa jam kita menunggu. Alhamdulillah dipandu oleh MC yang tidak membosankan, pembacaan ayat Al- Quran yang begitu merdu didengar, hingga sambutan ketua panitia yang begitu berkesan, ditambah sambutan dari Pembina Masjid Ulul Azmi yaitu oleh salah satu dosen dari kampus tersebut. Sambutan pembinanya pun membuat jamaah antusias mendengarkan. Di tengah sambutan Pembina, masuklah rombongan pemateri dan rekannya, yaitu Habib Muhammad bin Anies Sahab dan kawan-kawan. Kurang lebih waktu sudah menunjukkan pukul 9 kurang seperempat. Di akhirilah sambutan dosen tersebut.
Alhamdulillah, rasanya tidak sabar ingin segera mendengar tausiyah dari Habib. Ternyata eh ternyata masih ada pemutaran video.  Video pun diputar. Karya pengurus masjid Ulul Azmi. Di video itu mengisahkan seseorang ikhwan yang bertemu jodohnya, ia akan segera menikahi seorang akhwat. Padahal ia belum pernah mengenal sebelumnya. KARENA JODOHMU BISA SESEORANG YANG SANGAT DEKAT DENGANMU, DAN BISA ORANG YANG SAMA SEKALI TIDAK KAMU KENAL SEBELUMNYA.
Ia bertemu di pertemuan seperti yang aku hadiri saat ini. Mengapa ia begitu yakin akan menikahi akhwat tersebut, padahal tidak pernah kenal sebelumnya? Jawabnya karena JODOH ITU BUKAN KARENA MEMAHAMI SIFATNYA, SALING MENGENAL ASAL USULNYA, ATAU PUN MENGETAHUI KEKURANGAN DAN KELEBIHANNYA. TAPI JODOH ITU KARENA ALLAH.
Seorang Ikhwan tersebut bertanya kepada sang Akhwat, “Apakah kamu yakin mau menikah denganku, bagaimana jika kau tak mencintaiku?”
Sang Akhwat menjawab, “Aku yakin jika kamu mencintaiku karena Allah, bagaimana bisa aku tidak mencintaimu karena Allah. Cinta kita karena Allah.”
Masya Allah. Cinta yang utama adalah cinta kepada Allah. Barulah cinta kepada ciptaan- Nya karena Pencipta- Nya.
Pemutaran video pun berakhir. Sepertinya banyak jamaah yang seakan terhipnotis dengan video yang begitu menyejukkan hati tersebut. Tiba-tiba MC muncul lagi yang membawa berita gembira. Kita akan memasuki acara inti yaitu materi yang disampaikan oleh Habib Muhammad bin Anies Sahab.
Materi inti itu akan dipimpin oleh seorang moderator. Dan moderator itu adalah pemeran utama dalam video yang telah diputarkan tadi. Seingat saya namanya Suyono siapa gitu, agak sulit sih. Mahasiswa semester 7 dari Jombang. Setelah diperkenalkan dirinya moderator itu muncul. Cara menyapa jamaah pun begitu menyenangkan, humoris. Apalagi sapaan “Jomblowan dan Jomblowati” untuk semua jamaah yang hadir. Karena ia yakin jamaah yang hadir sudah tentu jomblo semua. Karena temanya tentang cinta.
Karena membahas soal cinta, pasti di kalangan anak muda sangat betah. Gak aka nada habisnya. Sayangnya jam sudah menunjukkan 9 lewat. Langsung saja moderator membacakan data diri pemateri. à Blab la bla bla.
Habib ini lahir di Malang pada tahun 1981. Berarti sekarang berusia 36 tahun. Parasnya terlihat seperti keturunan Arab. Ganteng. Putih. Tinggi. Mancung. Hihii. Ia pernah melanjutkan S1 di Darul Musthofa, Yaman.
Gak kerasa waktu sudah menunjukkan 10 kurang 25 menit. Aku harus bergegas pulang karena sudah cukup malam. Padahal cara penyampaian Habib begitu menyenangkan, penuh humor, dan kreatif. Aku hanya bisa mendengarkan hanya beberapa saja. Berikutlah yang aku dapatkan dari semua cerita Habib yang aku dengar:
1.      Definisi Cinta, Cinta adalah suatu aktivitas atau kegiatan terhadap objek, cinta itu berbentuk pengorbanan diri, kasih sayang, perhatian, kepada objek
2.      Cinta sejati itu adalah cinta Allah kepada hamba- Nya.
3.      Cinta di dunia itu bukanlah cinta sejati. Apalagi melihat anak zaman sekarang. Mulai dari SD, SMP, SMA banyak yang menyatakan cinta setelah itu dilanjutkan dengan berpelukan. Sangatlah tidak malu terhadap perbuatan yang melanggar agama. Berpelukan dengan yang bukan muhrim. Mungkin mereka belum bisa memikirkan hal itu. Bahwa bersentuhan dengan bukan muhrim adalah haram, mendapat dosa.
4.      Di era sekarang tidak ada yang tidak kenal dengan medsos, media sosial. Bagaimana caranya kita memanfaatkan medsos kita untuk kebaikan, berdakwah. Sampaikanlah walaupun satu ayat. Tidak harus kita menjadi ustad, ustadzah, guru, kyai, ulama untuk menyampaikan kebaikan melalui status facebook, instagram. Tidak perlu malu. Bantulah menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam. Tidak masalah kita belum benar-benar baik, karena status itu juga untuk diri kita sendiri, mengingatkan. Juga untuk mengajarkan ke orang lain.
5.      Minta ampunan kepada Allah, karena Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Jika merasa melakukan dosa, bertobatlah! Karena Allah pasti akan mengampuni hamba- Nya yang mau bertobat. Dan janganlah sampai diulangi lagi!
Allah juga Maha Penyayang. Allah begitu menyayangi hamba-hamba- Nya.
6.      Kajian-kajian cinta begitu banyak diminati oleh kaum muda, terutama jomblowan dan jomblowati. Kegiatan begitu bermanfaat di kalangan anak muda dibandingkan berpacaran. Karena pacaran itu akan mendekatkan diri kita kepada perbuatan zina. Lebih baik pacaran setelah menikah. Untuk menuju sebuah pernikahan alangkah baiknya kita juga sering mengikuti kajian-kajian tentang cinta, juga bisa kajian pranikah. Karena kajian pranikah bukan hanya untuk orang yang akan menikah dalam waktu seminggu ini misalnya, baru orang itu mengikuti kajian pranikah. TIDAK! Bahkan kajian tentang nikah dibutuhkan oleh jomblo jauh-jauh hari sebelum menikah, agar memahami dan mengerti apa-apa saja untuk memantaskan masing-masing diri dalam menjemput jodoh sebelum disatukan dalam ikatan yang disebut pernikahan.

Mungkin, itu saja mungkin yang dapat saya ceritakan. Jika ada salah mengartikan dalam penyampaian materi tersebut, jika ada pembaca yang kebetulan mengikuti acara ini juga, mohon dikoreksi. Terimakasih. J
            Selain beberapa hal yang sudah saya ceritakan, malam itu saya juga merasa beruntung. Karena bisa menghadiri acara tersebut. Yang saya rasakan, ternyata banyak akhwat yang rela pulang malam untuk mendatangi dan mengikuti kajian tersebut. Padahal di luar sana ketika pulang malam, banyak sekali kejahatan yang bisa saja menimpa kita. Tapi atas keyakinan kita dalam mencari ilmu, pasti Allah akan selalu melindungi kita. Aamiin yaa robbal alamiin.

             Dengan perasaan terpaksa, aku pulang. Padahal kajian belum usai. Dari cerita teman keesokan harinya, setelah aku pulang pembahasannya lebih seru. Masih berlanjut hingga pukul 23.00, sedangkan aku mendengarkan kajiannya hanya beberapa puluh menit saja. Alhamdulillah. J Semoga bisa mengamalkan ilmunya, dan bertemu kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar