Minggu, 15 Oktober 2017

Berbekal Cahaya, Kujemput Cinta

Oleh-oleh Seminar

            Pembicara        :           Bayu Adhitya Nugraha (Kang Abay), Motivasinger
Tema               :           Berbekal Cahaya Kujemput Cinta
            Lokasi             :           Gedung Sport Center UINSA Surabaya
            Hari, tanggal   :           Sabtu, 14 Oktober 2017
           
1.      Memiliki rasa cinta, itu bukanlah hal yang salah. Seorang akhwat bisa jatuh cinta kepada seorang ikhwan, pun sebaliknya. Boleh, asal tidak diaktualisasi sebelum ada ikatan yang sah. Karena aktualisasi cinta itu hanya ada di dalam pernikahan.
2.      Lantas bagaimana dengan yang mengatasnamakan aktualisasi cinta. Biasanya kita kenal dengan pacaran. Padahal dalam Islam pacaran itu dilarang, karena mendekati zina. Daripada pacaran, laki-laki yang membawa putri orang kesana-kemari. Maka datangi walinya, untuk meminta SIM= Surat Izin Menikah dari wali sang akhwat. Kamu harus memilih, Ikhlaskan atau Halalkan!
3.      Lalu maka bagaimana dengan akhwat, jika sang ikhwan tidak kunjung mendatangi sang Ayah? Maka ikhlaskan juga! Bagaimana dengan hubungan yang namanya pacaran? Apa kamu harus memutuskan pacarmu? Bilang saja ke si ikhwan, kalau kamu sekarang sudah banyak mengikuti kajian-kajian yang positif, dan kamu mulai berhijarah. Bahwa dalam Islam tidak diperbolehkan yang namanya pacaran. Jadi kamu menganggap pacaran itu tidak ada. Dan kamu juga sudah melupakan awal jadian sama si ikhawan sebelumnya. Kalau tidak ada jadian berarti sekarang tidak ada putus.
4.      Nah disitulah keikhlasan cinta.
- Bukan cinta dalam diam, hanya sekedar diam. Diam di mulut tapi di hati berteriak. Nyesek banget. Bukan!
- Bukan juga cinta dalam doa. Doa 1) Ya Allah, jodohkanlah aku dengan dia. Jika dia bukan jodohku, please Ya Allah jodohkanlah! ……. Doa 2) Ya Allah jodohkanlah aku dengan dia. Jika aku bukan jodohnya, jangan jodohkan ia dengan orang lain Ya Allah. ……  Doa 3) Ya Allah semoga ia adalah jodohku, agar senantiasa ia bersamaku. Jika ia tidak bisa selamanya di sisiku, maka terimalah ia di sisi- Mu Ya Allah. Bukan!
- Tapi, cinta dalam ikhlas. Merelakan, bersabar, mengikhlaskan. Meski masing-masing memiliki kecenderungan hati, bila tak bisa bersamanya, ikhlas dan tetap baik-baik saja. Mencintai itu belajar mengikhlaskan, bukan memiliki. Karena yang dicintai itu kepunyaan Allah, dipisahkan dan disatukan atas Ridlo- Nya. Mengikhlaskan akan semakin mendekatkan dia yang dinanti. Kita hanya perlu memantaskan diri di hadapan- Nya untuk mendapatkan seseorang yang terbaik untuk kita. Selalu yakin rencana- Nya selalu lebih indah dan pilihan- Nya adalah yang terbaik.
5.      Cara menjemput jodoh itu 3M: Mengikhlaskan, Memantaskan, dan Mendapatkan.
6.      Cara memantaskan diri, yaitu berusaha untuk menaikkan kualitas diri, menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya dalam segala aspek, baik dari spiritual, mental, hingga ekonomi.
Bisa dimulai dari menyusun target-target apa saja yang akan kita lakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Misal: target mengikuti kajian, membaca buku, ikut organisasi/ komunitas, target umroh/ naik haji, dsb.
7.      Bagi seorang Ayah ataupun wali dari seorang akhwat akan masih terbebani tugas sebelum ia menikahkan puterinya. Apabila ia sudah menikahkan puterinya, ia akan merasa tugasnya sudah selesai. Karena puterinya  akan menjadi  tanggungjawab suaminya. Suaminya adalah imam dari puterinya. Sepatutnya puterinya akan berbakti kepada suaminya.
8.      Seringkali orangtua melarang anaknya untuk menikah muda dengan alasan harus menyelesaikan kuliahnya. Tidak melulu begitu. Sebagai anak kita harus meyakinkan orangtua. Betapa banyak manfaatnya menikah muda. Karena usia masih muda, kekuatannya masih luar biasa untuk berkreasi, untuk sama-sama berjuang membangun keluarga yang bahagia. Usianya masih produktif. Dan jika punya anak nanti, apalagi anaknya sudah besar saat sang anak membutuhkan banyak biaya, orangtua belum terlalu tua sehingga mereka bisa memenuhi kebutuhan anaknya.
9.      Selain alasan orangtua, banyak juga alasan dari sang anak yang membuat  mereka tidak menyegerakan menikah. Yaitu ingin membahagiakan orangtua dulu. Ingin berkarir dulu. Ingin mengajak kedua orangtua ke Baitullah. Baru menikah.
Apakah setelah menikah, mereka tidak bisa membahagiakan orangtua? Mengajak ortu ke Baitulloh bersama? Jawabnya BISA. Lantas kenapa harus bingung, dan menunda menikah?
10.  Seringkali juga orangtua selalu memberi patokan atau kriteria kepada calon suami, hal yang paling utama adalah ekonomi. Pertanyaan utama yang dilontarkan kepada calon suami adalah “Kamu kerja apa?” Secara tidak langsung itu sama dengan menanyakan “Gajimu sebulan berapa?” :D  
Kita dengan orangtua kita juga harus sering berbagi, berdiskusi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan agama. Jika anak yang mengerti bisa mengingatkan kepada orangtua. Membicarakannya dengan baik-baik. Dan selalu mendoakan orangtua agar mendapatkan petunjuk dari Allah.

10 poin itu jika dijabarkan lagi, mungkin sepertinya bisa jadi lebih panjang. Karena kalau kita membahas masalah cinta rasanya tidak ada habisnya. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul, apalagi di kalangan anak muda. Selalu ada keingintahuan.

Ohya satu lagi pernyataan sekaligus pertanyaan dari Kang Ubay yang mendapat respon dari singlelillah di kalangan akhwat.
Kalau mencari ikhwan yang sholeh, tampan, dan mapan itu memang ada, tapi sedikit. Pertanyaannya dia mau nggak sama kamu?
Kalau ikhwan yang sholeh, ganteng, tapi belum mapan, buanyak.
Pertanyaannya kamu mau nggak berjuang bersamanya untuk mencapai kesuksesan dimulai dari nol?
Banyak akhwat yang menjawab, MAUUUUUU…… (dengan semangat) :D

Jika dalam penulisan ulasan materi dari Kang Abay tersebut, ada kekeliruan mohon diperbaiki.  Dan terimakasih sudah membaca. J Semoga kita bisa menerapkan ilmu yang kita peroleh setiap harinya. Aamiin.



Halaqah Cinta

Malam itu, 22 Muharram 1439 aku mengikuti kajian yang bernama Halaqah Cinta. Diadakan oleh pengurus masjid Ulul Azmi Kampus C UNAIR. Dengan judul “Cintaku Bukan Cinta Biasa”, yang dijadwalkan dimulai pukul 19.00. Aku berangkat dari rumah setelah sholat Isya’ tepat, langsung menuju lokasi. Sampai di sana sudah lewat pukul 7 malam. Acara sudah dimulai dengan musik qosidah dan lagu-lagu Islami.
Beberapa puluh kemudian, muncul MC yang mengisi acara agar tidak monoton. Hingga akhirnya acara resmi pun dibacakan. Mulai dari Pembukaan, Pembacaan Qalam Ilahi, Sambutan-sambutan, Pemutaran Video hingga materi inti yang bertemakan cinta. Materi inti inilah yang kita tunggu-tunggu, yang akan disampaikan oleh Habib Muhammad bin Anies Sahab dari Malang.
Sebelum memasuki acara inti, beberapa jam kita menunggu. Alhamdulillah dipandu oleh MC yang tidak membosankan, pembacaan ayat Al- Quran yang begitu merdu didengar, hingga sambutan ketua panitia yang begitu berkesan, ditambah sambutan dari Pembina Masjid Ulul Azmi yaitu oleh salah satu dosen dari kampus tersebut. Sambutan pembinanya pun membuat jamaah antusias mendengarkan. Di tengah sambutan Pembina, masuklah rombongan pemateri dan rekannya, yaitu Habib Muhammad bin Anies Sahab dan kawan-kawan. Kurang lebih waktu sudah menunjukkan pukul 9 kurang seperempat. Di akhirilah sambutan dosen tersebut.
Alhamdulillah, rasanya tidak sabar ingin segera mendengar tausiyah dari Habib. Ternyata eh ternyata masih ada pemutaran video.  Video pun diputar. Karya pengurus masjid Ulul Azmi. Di video itu mengisahkan seseorang ikhwan yang bertemu jodohnya, ia akan segera menikahi seorang akhwat. Padahal ia belum pernah mengenal sebelumnya. KARENA JODOHMU BISA SESEORANG YANG SANGAT DEKAT DENGANMU, DAN BISA ORANG YANG SAMA SEKALI TIDAK KAMU KENAL SEBELUMNYA.
Ia bertemu di pertemuan seperti yang aku hadiri saat ini. Mengapa ia begitu yakin akan menikahi akhwat tersebut, padahal tidak pernah kenal sebelumnya? Jawabnya karena JODOH ITU BUKAN KARENA MEMAHAMI SIFATNYA, SALING MENGENAL ASAL USULNYA, ATAU PUN MENGETAHUI KEKURANGAN DAN KELEBIHANNYA. TAPI JODOH ITU KARENA ALLAH.
Seorang Ikhwan tersebut bertanya kepada sang Akhwat, “Apakah kamu yakin mau menikah denganku, bagaimana jika kau tak mencintaiku?”
Sang Akhwat menjawab, “Aku yakin jika kamu mencintaiku karena Allah, bagaimana bisa aku tidak mencintaimu karena Allah. Cinta kita karena Allah.”
Masya Allah. Cinta yang utama adalah cinta kepada Allah. Barulah cinta kepada ciptaan- Nya karena Pencipta- Nya.
Pemutaran video pun berakhir. Sepertinya banyak jamaah yang seakan terhipnotis dengan video yang begitu menyejukkan hati tersebut. Tiba-tiba MC muncul lagi yang membawa berita gembira. Kita akan memasuki acara inti yaitu materi yang disampaikan oleh Habib Muhammad bin Anies Sahab.
Materi inti itu akan dipimpin oleh seorang moderator. Dan moderator itu adalah pemeran utama dalam video yang telah diputarkan tadi. Seingat saya namanya Suyono siapa gitu, agak sulit sih. Mahasiswa semester 7 dari Jombang. Setelah diperkenalkan dirinya moderator itu muncul. Cara menyapa jamaah pun begitu menyenangkan, humoris. Apalagi sapaan “Jomblowan dan Jomblowati” untuk semua jamaah yang hadir. Karena ia yakin jamaah yang hadir sudah tentu jomblo semua. Karena temanya tentang cinta.
Karena membahas soal cinta, pasti di kalangan anak muda sangat betah. Gak aka nada habisnya. Sayangnya jam sudah menunjukkan 9 lewat. Langsung saja moderator membacakan data diri pemateri. à Blab la bla bla.
Habib ini lahir di Malang pada tahun 1981. Berarti sekarang berusia 36 tahun. Parasnya terlihat seperti keturunan Arab. Ganteng. Putih. Tinggi. Mancung. Hihii. Ia pernah melanjutkan S1 di Darul Musthofa, Yaman.
Gak kerasa waktu sudah menunjukkan 10 kurang 25 menit. Aku harus bergegas pulang karena sudah cukup malam. Padahal cara penyampaian Habib begitu menyenangkan, penuh humor, dan kreatif. Aku hanya bisa mendengarkan hanya beberapa saja. Berikutlah yang aku dapatkan dari semua cerita Habib yang aku dengar:
1.      Definisi Cinta, Cinta adalah suatu aktivitas atau kegiatan terhadap objek, cinta itu berbentuk pengorbanan diri, kasih sayang, perhatian, kepada objek
2.      Cinta sejati itu adalah cinta Allah kepada hamba- Nya.
3.      Cinta di dunia itu bukanlah cinta sejati. Apalagi melihat anak zaman sekarang. Mulai dari SD, SMP, SMA banyak yang menyatakan cinta setelah itu dilanjutkan dengan berpelukan. Sangatlah tidak malu terhadap perbuatan yang melanggar agama. Berpelukan dengan yang bukan muhrim. Mungkin mereka belum bisa memikirkan hal itu. Bahwa bersentuhan dengan bukan muhrim adalah haram, mendapat dosa.
4.      Di era sekarang tidak ada yang tidak kenal dengan medsos, media sosial. Bagaimana caranya kita memanfaatkan medsos kita untuk kebaikan, berdakwah. Sampaikanlah walaupun satu ayat. Tidak harus kita menjadi ustad, ustadzah, guru, kyai, ulama untuk menyampaikan kebaikan melalui status facebook, instagram. Tidak perlu malu. Bantulah menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam. Tidak masalah kita belum benar-benar baik, karena status itu juga untuk diri kita sendiri, mengingatkan. Juga untuk mengajarkan ke orang lain.
5.      Minta ampunan kepada Allah, karena Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Jika merasa melakukan dosa, bertobatlah! Karena Allah pasti akan mengampuni hamba- Nya yang mau bertobat. Dan janganlah sampai diulangi lagi!
Allah juga Maha Penyayang. Allah begitu menyayangi hamba-hamba- Nya.
6.      Kajian-kajian cinta begitu banyak diminati oleh kaum muda, terutama jomblowan dan jomblowati. Kegiatan begitu bermanfaat di kalangan anak muda dibandingkan berpacaran. Karena pacaran itu akan mendekatkan diri kita kepada perbuatan zina. Lebih baik pacaran setelah menikah. Untuk menuju sebuah pernikahan alangkah baiknya kita juga sering mengikuti kajian-kajian tentang cinta, juga bisa kajian pranikah. Karena kajian pranikah bukan hanya untuk orang yang akan menikah dalam waktu seminggu ini misalnya, baru orang itu mengikuti kajian pranikah. TIDAK! Bahkan kajian tentang nikah dibutuhkan oleh jomblo jauh-jauh hari sebelum menikah, agar memahami dan mengerti apa-apa saja untuk memantaskan masing-masing diri dalam menjemput jodoh sebelum disatukan dalam ikatan yang disebut pernikahan.

Mungkin, itu saja mungkin yang dapat saya ceritakan. Jika ada salah mengartikan dalam penyampaian materi tersebut, jika ada pembaca yang kebetulan mengikuti acara ini juga, mohon dikoreksi. Terimakasih. J
            Selain beberapa hal yang sudah saya ceritakan, malam itu saya juga merasa beruntung. Karena bisa menghadiri acara tersebut. Yang saya rasakan, ternyata banyak akhwat yang rela pulang malam untuk mendatangi dan mengikuti kajian tersebut. Padahal di luar sana ketika pulang malam, banyak sekali kejahatan yang bisa saja menimpa kita. Tapi atas keyakinan kita dalam mencari ilmu, pasti Allah akan selalu melindungi kita. Aamiin yaa robbal alamiin.

             Dengan perasaan terpaksa, aku pulang. Padahal kajian belum usai. Dari cerita teman keesokan harinya, setelah aku pulang pembahasannya lebih seru. Masih berlanjut hingga pukul 23.00, sedangkan aku mendengarkan kajiannya hanya beberapa puluh menit saja. Alhamdulillah. J Semoga bisa mengamalkan ilmunya, dan bertemu kembali.