Oleh-oleh
Seminar
Pembicara : Bayu Adhitya Nugraha (Kang Abay),
Motivasinger
Tema : Berbekal
Cahaya Kujemput Cinta
Lokasi : Gedung Sport Center UINSA Surabaya
Hari, tanggal : Sabtu, 14 Oktober 2017
1. Memiliki
rasa cinta, itu bukanlah hal yang salah. Seorang akhwat bisa jatuh cinta kepada
seorang ikhwan, pun sebaliknya. Boleh, asal tidak diaktualisasi sebelum ada
ikatan yang sah. Karena aktualisasi cinta itu hanya ada di dalam pernikahan.
2. Lantas
bagaimana dengan yang mengatasnamakan aktualisasi cinta. Biasanya kita kenal
dengan pacaran. Padahal dalam Islam pacaran itu dilarang, karena mendekati
zina. Daripada pacaran, laki-laki yang membawa putri orang kesana-kemari. Maka
datangi walinya, untuk meminta SIM= Surat Izin Menikah dari wali sang akhwat.
Kamu harus memilih, Ikhlaskan atau Halalkan!
3. Lalu
maka bagaimana dengan akhwat, jika sang ikhwan tidak kunjung mendatangi sang
Ayah? Maka ikhlaskan juga! Bagaimana dengan hubungan yang namanya pacaran? Apa
kamu harus memutuskan pacarmu? Bilang saja ke si ikhwan, kalau kamu sekarang
sudah banyak mengikuti kajian-kajian yang positif, dan kamu mulai berhijarah.
Bahwa dalam Islam tidak diperbolehkan yang namanya pacaran. Jadi kamu
menganggap pacaran itu tidak ada. Dan kamu juga sudah melupakan awal jadian
sama si ikhawan sebelumnya. Kalau tidak ada jadian berarti sekarang tidak ada
putus.
4. Nah
disitulah keikhlasan cinta.
-
Bukan cinta dalam diam, hanya sekedar diam. Diam di mulut tapi di hati
berteriak. Nyesek banget. Bukan!
-
Bukan juga cinta dalam doa. Doa 1) Ya Allah, jodohkanlah aku dengan dia. Jika
dia bukan jodohku, please Ya Allah jodohkanlah! ……. Doa 2) Ya Allah jodohkanlah
aku dengan dia. Jika aku bukan jodohnya, jangan jodohkan ia dengan orang lain
Ya Allah. …… Doa 3) Ya Allah semoga ia
adalah jodohku, agar senantiasa ia bersamaku. Jika ia tidak bisa selamanya di
sisiku, maka terimalah ia di sisi- Mu Ya Allah. Bukan!
-
Tapi, cinta dalam ikhlas. Merelakan, bersabar, mengikhlaskan. Meski
masing-masing memiliki kecenderungan hati, bila tak bisa bersamanya, ikhlas dan
tetap baik-baik saja. Mencintai itu belajar mengikhlaskan, bukan memiliki.
Karena yang dicintai itu kepunyaan Allah, dipisahkan dan disatukan atas Ridlo-
Nya. Mengikhlaskan akan semakin mendekatkan dia yang dinanti. Kita hanya perlu
memantaskan diri di hadapan- Nya untuk mendapatkan seseorang yang terbaik untuk
kita. Selalu yakin rencana- Nya selalu lebih indah dan pilihan- Nya adalah yang
terbaik.
5. Cara
menjemput jodoh itu 3M: Mengikhlaskan, Memantaskan, dan Mendapatkan.
6. Cara
memantaskan diri, yaitu berusaha untuk menaikkan kualitas diri, menjadi pribadi
yang lebih baik setiap harinya dalam segala aspek, baik dari spiritual, mental,
hingga ekonomi.
Bisa
dimulai dari menyusun target-target apa saja yang akan kita lakukan untuk
menjadi pribadi yang lebih baik. Misal: target mengikuti kajian, membaca buku,
ikut organisasi/ komunitas, target umroh/ naik haji, dsb.
7. Bagi
seorang Ayah ataupun wali dari seorang akhwat akan masih terbebani tugas
sebelum ia menikahkan puterinya. Apabila ia sudah menikahkan puterinya, ia akan
merasa tugasnya sudah selesai. Karena puterinya
akan menjadi tanggungjawab
suaminya. Suaminya adalah imam dari puterinya. Sepatutnya puterinya akan
berbakti kepada suaminya.
8. Seringkali
orangtua melarang anaknya untuk menikah muda dengan alasan harus menyelesaikan
kuliahnya. Tidak melulu begitu. Sebagai anak kita harus meyakinkan orangtua.
Betapa banyak manfaatnya menikah muda. Karena usia masih muda, kekuatannya
masih luar biasa untuk berkreasi, untuk sama-sama berjuang membangun keluarga
yang bahagia. Usianya masih produktif. Dan jika punya anak nanti, apalagi
anaknya sudah besar saat sang anak membutuhkan banyak biaya, orangtua belum
terlalu tua sehingga mereka bisa memenuhi kebutuhan anaknya.
9. Selain
alasan orangtua, banyak juga alasan dari sang anak yang membuat mereka tidak menyegerakan menikah. Yaitu
ingin membahagiakan orangtua dulu. Ingin berkarir dulu. Ingin mengajak kedua
orangtua ke Baitullah. Baru menikah.
Apakah
setelah menikah, mereka tidak bisa membahagiakan orangtua? Mengajak ortu ke
Baitulloh bersama? Jawabnya BISA. Lantas kenapa harus bingung, dan menunda
menikah?
10. Seringkali
juga orangtua selalu memberi patokan atau kriteria kepada calon suami, hal yang
paling utama adalah ekonomi. Pertanyaan utama yang dilontarkan kepada calon
suami adalah “Kamu kerja apa?” Secara tidak langsung itu sama dengan menanyakan
“Gajimu sebulan berapa?” :D
Kita
dengan orangtua kita juga harus sering berbagi, berdiskusi mengenai hal-hal
yang berhubungan dengan agama. Jika anak yang mengerti bisa mengingatkan kepada
orangtua. Membicarakannya dengan baik-baik. Dan selalu mendoakan orangtua agar
mendapatkan petunjuk dari Allah.
10
poin itu jika dijabarkan lagi, mungkin sepertinya bisa jadi lebih panjang.
Karena kalau kita membahas masalah cinta rasanya tidak ada habisnya. Banyak
sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul, apalagi di kalangan anak muda. Selalu
ada keingintahuan.
Ohya
satu lagi pernyataan sekaligus pertanyaan dari Kang Ubay yang mendapat respon
dari singlelillah di kalangan akhwat.
Kalau
mencari ikhwan yang sholeh, tampan, dan mapan itu memang ada, tapi sedikit.
Pertanyaannya dia mau nggak sama kamu?
Kalau
ikhwan yang sholeh, ganteng, tapi belum mapan, buanyak.
Pertanyaannya
kamu mau nggak berjuang bersamanya untuk mencapai kesuksesan dimulai dari nol?
Banyak
akhwat yang menjawab, MAUUUUUU…… (dengan semangat) :D
Jika
dalam penulisan ulasan materi dari Kang Abay tersebut, ada kekeliruan mohon
diperbaiki. Dan terimakasih sudah
membaca. J
Semoga kita bisa menerapkan ilmu yang kita peroleh setiap harinya. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar